Diantara semua ciptaan Allah SWT ada manusia, yang Dia ciptakan hanya untuk satu tujuan – yakni beribadah, taat dan patuh hanya kepadaNya saja. Allah telah menginformasikan kepada kita lewat Rasul, Nabi dan wahyu bahwa ada sebagian orang yang Dia cintai dan mereka mencintaiNya, juga yang Dia benci dan mereka membenciNya.
Arrahmah.Com - Internet adalah “Afghanistan Baru”. Begitu ungkap seorang Komisi Polisi New York, Raymond Kelly (Reuters, Sabtu, 15 Agustus 2007). Disejajarkannya internet dengan perang di Afghanistan menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh ineternet secara khusus dan media massa secara umum dalam jihad global dewasa ini. Apalagi yang menyampaikan adalah seorang komisi polisi kota New York, jantung ibukota dunia, bisa dibayangkan betapa seriusnya masalah ini.
Pertunangan adalah istilah yang digunakan dalam masyarakat yang berarti bahwa seseorang telah terikat janji dengan orang lain dengan maksud untuk menikah nantinya. Di negara Barat, “tunangan” atau pertunangan ini dapat berlangsung selama bertahun tahun tanpa ada kepastian untuk menikah dan lebih jauh lagi tanpa ada kesepakatan apa pun. Selama tunangan, pasangan tersebut boleh bersenang-senang termasuk melakukan hubungan seksual. Hal ini sudah tidak mengejutkan lagi dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Aku adalah seorang wanita. Walau dalam sebagian bisikan benakku rasakan kecewa, namun keseluruhan jiwaku tetap mantap tersenyum. Aku sadar, kekecewaan itu hanyalah setan berbisik. Betapa setan akan selalu berusaha menyesatkanku, selama hayatku. Aku pun teringat masa-masa itu, jauh di masa dahulu, dimana seorang wanita tiada punya martabat. Dimana seorang ayah tega membunuh darah dagingnya, karena ia terlahir sebagai wanita. Betapa mereka murung durjana, saat kabar terdengar terlahir wanita.
Seorang Muslim diwajibkan untuk hidup dengan Islam dan menerapkan syari’at di mana saja kita berada. Kita juga harus taat kepada Allah SWT, RasulNya dan kepada Amirul Mu’minin. Jika tidak ada pemimpin (Khalifah) untuk dibai’at (seperti saat sekarang ini), maka menjadi kewajiban untuk berjuang secara berjama’ah dengan Muslim lain dengan tujuan untuk membasmi syirik (kekafiran, tuhan-tuhan palsu, hukum yang tidak Islami dan sebagainya) kemudian menerapkan Syari’at.
Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
Kalau aktifitas hidup hanya itu-itu saja, pasti tumbuh rasa bosan. Mungkin Anda pernah rasakan, terjebak ke dalam aktifitas yang bersifat rutinitas, maka anda akan merasakan kebosanan. Dan jika rasa bosan ini sudah muncul, maka produktifitas kerja akan semakin menurun. Dengan kata lain, gairah hidup semakin memudar. Saat itulah manusia membutuhkan refreshing, untuk membangkitkan gairahnya yang sudah loyo.
Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi saw. berkata, “Sungguh saya benar-benar pernah melihat Rasulullah saw. di daerah Arj (nama sebuah desa yang memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, untuk sampai kesana diperlukan perjalanan beberapa hari dari Madinah) beliau menuangkan air diatas kepalanya padahal beliau berpuasa karena haus dahaga atau karena suhu sangat panas.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2072, dan ‘Aunul Ma’bud VI: 492 no: 2348).
Mendirikan sebuah khilafah(Negara Islam) adalah kewajiban bagi setiap muslim, hanya dengan memberikan bai`at (janji untuk kesetiaan) kepada seorang Khalifah untuk menerapkan hukum Islam yang merupakan kewajiban setiap muslim untuk mematuhinya dimana pun mereka berada (bertempat tinggal). Mendirikan Khilafah adalah fardhu kifayah/kewajiban bersama. Oleh karena itu diperlukan usaha bersama dan setiap muslim diwajibkan bergabung dalam sebuah jama’ah yang berjuang ke arah perwujudan dominasi Islam untuk pencapaian tujuan mereka dan jama’ah ini harus mengambil langkah dan prinsip yang pasti yang akan memungkinkan mereka dapat mencapai tujuan mereka.
Allah SWT berfirman :
Kami harapkan Anda dapat menjelaskan permasalahan saya berikut ini: Kami mempunyai beberapa saudara di Brazil yang kembali memeluk Dienul Islam (sejak tahun lalu) dalam penjara, walhamdulillah. Biasanya para narapidana dibolehkan menerima istri-istri mereka pada jadwal-jadwal berkunjung (yaitu hari Ahad). Dan biasanya mereka tidur bersama istri-istri masing-masing (bersetubuh) dari pukul sebelas siang sampai pukul dua siang. Pertanyaannya adalah: Bagaimana hukumnya jika hal itu mereka lakukan pada bulan Ramadhan, sementara istri-istri mereka non muslimah. Demikian kiranya semoga Anda sudi menjelaskannya kepada kami tentang permasalahan tersebut, perlu juga diketahui perihal ketidaksanggupan kaum wanita menahan syahwatnya selama tiga puluh hari dan para suami mereka juga masih tergolong muallaf, apalagi di sini (Brazil) tidak ada ahli ilmu, terima kasih.
Apa hukumnya wanita yang banyak meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan selama bertahun-tahun, apakah ia harus mengganti seluruh puasa yang ditinggalkannya selama bertahun-tahun itu? Adakah solusi lain baginya selain mengqadha dan membayar fidyah? Bolehkah ia melakukan puasa sunnat sebelum mengganti puasanya, seperti berpuasa enam hari pada bulan syawal. Apakah pahalanya berkurang jika ia tidak mengganti hutang puasanya hingga tiba Ramadhan berikutnya?
Saya sedikit memiliki kelainan, yaitu sampai sekarang saya masih gemar mengisap jempol, kebiasaan itu sudah saya lakukan sejak kecil dan akan bertambah bilamana saya sedang sakit. Saya ragu apakah kebiasaan tersebut haram hukumnya ataukah tidak. Apakah kebiasaan itu membatalkan puasa ataukah tidak? Seorang teman saya mengatakan bahwa benda apa saja yang dimasukkan ke dalam tubuh dapat membatalkan puasa. Saya berharap agar pertanyaan saya ini dapat dijawab sesegera mungkin sebab tidak lama lagi bulan Ramadhan tiba. Kebiasaan ini membuat diri saya minder. Saya tidak mampu menceritakan problem yang saya hadapi ini sekalipun kepada suami saya sendiri!
Marhaban Ya Ramadhan. Rasulullah SAW. selalu memotivasi para sahabat dengan kabar gembira akan datangnya Ramadhan, sebagaimana sabdanya, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, rajanya bulan, sambut dan hormatilah Ramadhan.”